Berterima Kasihlah ke Fahri

1

Oleh: Yusuf Maulana*

Di antara kita mungkin alergi begitu melihat kilasan fotonya. Atau sebagian lagi malah sebal bukan kepalang kala disebut namanya. Tidak heran juga bila ada teman bicara menutup telinga, begitu namanya dibicarakan.

Cibiran demi cacian sudah biasa dilontarkan oleh sebagian kawan kita buatnya. Atau malah kita sendirilah yang seturut dalam barisan pembencinya. Mulutnya terlalu lebar dan bermuatan besar hingga menggaduhkan isi pikiran. Bersuara di layar kaca hanya bikin darah sebagian kita mendidih. Soal membubarkan KPK hingga membela kawan sekongksi, (mantan) Ketua DPR.

Seorang kawan bilang begini, mulut dia seperti knalpot! Sungguh sarkas dan tidak termaafkan buat memberi ruang berbaik sangka. Takdirnya menjadi pembongkar memang hanya populer di kalangan beberapa juniornya atau orang di sekitarnya. Publik, karena berita media, mengenalnya sebagai tukang gaduh dengan segudang ide tidak karuan. Semua setuju korupsi ditindak, dia malah setuju KPK dibubarkan.

Telunjuk kita segera mengarah ke wajahnya. Tubuh tambunya seolah wakili sosok koruptor. Kita pun teringat benderang pada partainya. Bagi sebagian kita malah sudah wakili sebagai malaikat pemvonis: ia dan partainya pastilah sesat dan menyesatkan. Hingga ruang menilai dari sudut berbeda tinggal indah di teori belaka.

Ada banyak sosok aneh di negeri ini. Tuai kontroversi sudah biasa. Ketua ormas mantan kepala negara rela bergandengan dengan Israel saja sebagian kita mempunyai tafsiran ganda agar berbaik sangka. Atau pada penguasa sekarang dengan akrobatnya, agar publik menerima dengan sudut berbeda. Tapi, tampaknya, mereka yang bijak kala menilai dua sosok ini, enggan untuk memprasangka kalem dan menunda kesumat bila berhadap dia: Fahri Hamzah.

Fahri Hamzah sepertinya lahir dan ditakdirkan untuk bertindak aneh. Melampaui nalar umum yang menyukai kemapanan dan kenyamanan disangka. Di lingkup partai kabarnya juga dia diwarta macam-macam. Dianggap loyalis mantan presiden partai yang dilengserkan berbilang purnama lampau. Dituding pembela setia koruptor, tapi KPK sendiri kesulitan menjerat dia terkait ruswah apa.

Mulutnya memang bagi sebagian orang bau comberan; atau teranggap knalpot bising. Tapi ini tinggal sudut pandang menilai. Saya juga teracap berbeda dengan cara berpikirnya. Tapi menahan diri untuk menudingnya tidak-tidak, jelas tidak bijak. Boleh jadi dia—maaf— berengsek, tapi sekadar di mulut. Tapi tindakan dan hatinya, tidak sejahat itu. Bahkan ketika kita mudah memaafkan penguasa Batavia dengan mulut asbun dan pongah, Fahri tidak wakili kepongahan kendati sakiti opini kita dari segi artikulasi suara. Tapi lihatlah: betapa berduyun-duyun orang memafhumi penguasa Batavia, tapi bersekutu suara untuk membenci Fahri.

Fahri di lakon Senayan memang kadang menyebalkan. Tapi saya masih kesulitan untuk menempatkannya sebagai pengkhianat umat dan bangsa kalau berdasar berita media arus utama. Ucapan “kasar” nan bisingnya kiranya masih sumir untuk dikata dia penjahat di negeri ini!

Fahri, dengan apa adanya malah ajarkan keberanian. Rela dirundung publik negerinya. Lakukan yang dia anggap benar, itu prinsip. Kita boleh tidak setuju, tapi cara dia teguh membela, itu sosok lelaki sebenarnya. Memose diri bersama orang alit di kampungnya nan kumuh, berasa dia apa adanya. Bukan polesan ini dan itu untuk mencitrakan diri. Karena itu, saya lebih menganggap keluhan dia soal wacana “didepak” partainya dari jabatan wakil ketua DPR, hanya sebentuk drama lelaki yang tahu kapan masanya berperan di belakang layar.

Mungkin ia biasa tampil di layar dengan lakol-lakon berbusa di kata. Tapi dengan kekeruhan yang dihadirkan, percayalah dia kelak hadirkan sebuah pelajaran yang hari ini masih sukar diterima nalar. Dia, bagi saya, lebih riil, berani berkubang caci, dan patut disimak ketimbang Fahri lain dari Edinburgh dalam serial Ayat yang hanya melambungkan imajinasi lelaki! Menjadi sempurna itu harus siap ditenggelamkan rakyatnya sendiri. Dan itulah jasa si Fahri dari Lombok.

 

Lahir di Cirebon dan ketika dewasa tinggal di Yogyakarta. Setia menekuni industri kreatif dalam dunia literasi. Senang menyimak komunikasi politik dan bertukar ide dengan aktivis mahasiswa.

 

Sumber: islampos.com

1 Comment

Tuliskan komentar Anda..