Wali Kota Mahyeldi Ansharullah Optimalkan Potensi Padang

0

JawaPos, Padang – Sejak menjabat wali kota Padang pada 13 Mei 2014, Mahyeldi Ansharullah bertekad mengubah wajah kota menjadi lebih baik. Salah satu yang telah dilakukan adalah menjadikan Padang lebih hijau dan meningkatkan kualitas kesehatan warga.

PADA 2009, Padang menjadi kota yang peduli sanitasi. Bahkan, pada Oktober tahun ini, Padang ditunjuk sebagai tuan rumah pertemuan 400 kota se-Indonesia yang peduli sanitasi. ’’Tahun lalu di Bandung. Kali ini ke Padang,’’ kata Mahyeldi saat ditemui di rumah dinasnya Jumat lalu (10/4).Padang ikut serta dalam pertemuan tersebut bukan hanya karena sanitasi masuk dalam Millennium Development Goals (MDG’s) yang harus dicapai pada 2019, tapi juga untuk meningkatkan kualitas kesehatan warga. Mahyeldi menyatakan, banyak sekali penyakit yang muncul karena lingkungan yang tidak baik. Karena itu, agar warga tidak sakit, kondisi lingkungan harus bagus.

’’Salah satu program kami di bidang sanitasi adalah meminimalkan warga buang air besar sembarangan,’’ ucapnya. Caranya, membuat septic tankkomunal di beberapa kampung. Dengan septic tank komunal, air sumur tak akan terkotori polusi sehingga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan lain. Selain itu, ada pendampingan agar warga tidak buang air besar sembarangan. ’’Pendampingan ini terutama ditujukan kepada warga di pinggir pantai,’’ kata pria yang lahir pada 25 Desember 1966 itu.

Mahyeldi mengakui tidak mudah mengubah mindset masyarakat. Karena itu, pendampingan dan sosialisasi terus dilakukan hingga saat ini. Baik oleh petugas puskesmas setempat maupun dinas kesehatan. ’’Butuh waktu. Tapi, saya yakin bisa,’’ ucapnya.

Selain itu, ayah sembilan anak tersebut berupaya mematuhi ketentuan penyediaan ruang terbuka hijau sebanyak 30 persen. Selain menambah pohon di sepanjang jalan utama, dia membangun taman-taman baru di pusat kota. Hal itu membuat suasana Kota Padang jadi lebih hijau. ’’Drainase juga diperbaiki. Alhamdulillah, di Padang jarang terjadi banjir,’’ katanya.

Berkat upaya-upaya tersebut, ibu kota Provinsi Sumatera Barat itu menerima penghargaan Kota Langit Biru 2014 untuk kategori kota besar dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Penghargaan tersebut diterima awal Maret lalu.

Prestasi itu didapat dari hasil penilaian tim Kementerian LH pada Juli–Agustus 2014. Sejumlah aspek dinilai, hingga akhirnya Padang berhak memboyong penghargaan tersebut. Salah satunya upaya pemkot dan warga dalam menjaga kualitas udara di Padang agar tetap sehat dan tidak tercemar. Sekaligus, mengurangi emisi rumah kaca yang merupakan penyebab perubahan iklim dari sektor transportasi.

Program lain yang tengah digalakkan Mahyeldi adalah penerapan kawasan tanpa rokok (KTR). Untuk itu, sudah ada peraturan daerah (perda) yang secara khusus mengatur tentang KTR. Di lingkungan sekolah dan rumah sakit (RS) tidak boleh merokok sembarangan, begitu juga di instansi pemerintahan.

Hanya, kata Mahyeldi, implementasi program tersebut dirasa belum maksimal. Saat ini, masih susah meminta warga menaati aturan tersebut. ’’Kalau di sekolah dan RS, itu sudah bisa dilakukan. Namun, yang lain belum,’’ ucapnya. Padahal, sama dengan di instansi pemerintahan, sudah ada ruang khusus untuk kalangan perokok.

Mahyeldi berencana meminta dinas kesehatan (dinkes) mempersiapkan aturan pelaksanaan perda tersebut. Dengan begitu, pelaksanaan di lapangan menjadi jelas. ’’Untuk PNS, saya berusaha dengan pendekatan persuasif agar mereka tak merokok lagi. Pemimpin harus memberikan contoh dulu,’’ katanya.

Politikus PKS tersebut mengatakan bahwa dirinya tidak merokok, begitu juga Wakil Wali Kota Emzalmi. Bahkan, dia pernah mendapat pin suami tak merokok dari istrinya sendiri yang juga ketua PKK Kota Padang. ’’Pinnya saya pakai terus untuk memberikan contoh ke lainnya juga,’’ lanjutnya.

Dia juga memiliki program bedah rumah. Program itu berlangsung sejak tahun lalu. Targetnya, ada 1.000 rumah yang dibedah. Mahyeldi mengatakan bahwa target tersebut memang belum tercapai. Baru sekitar 700 rumah yang dibedah. ’’Itu terjadi karena programnya mulai Mei,’’ jelasnya.

Tahun ini, program serupa dimulai Januari lalu. Targetnya sama, yakni membedah 1.000 rumah. Suami Harneli Bahar itu yakin target tersebut bisa tercapai. Bahkan, bisa lebih dari target. ’’Banyak yang membantu. Pemkot hanya mengeluarkan dana Rp 10 juta–Rp 20 juta per rumah. Selebihnya partisipasi warga,’’ katanya.

Mahyeldi mengungkapkan, warga Padang masih terdiri atas beberapa suku. Ketika ada satu rumah di suku A yang diperbaiki, warga lain yang masuk dalam suku tersebut diminta berpartisipasi. Selain itu, sang istri ikut mencari dana bantuan. Caranya, mem-posting foto rumah yang hendak dibedah. ’’Teman-teman istri langsung ikut memberikan bantuan,’’ paparnya.

 

Berita Selengkapnya !

Tuliskan komentar Anda..