Reses Abdurrahman Suhaimi Meresapi Filosofi Berjamaah dalam Sepiring Nasi Pecel

0

PKSiana, Jakarta – Filosofi dari nasi pecel adalah “keserbabolehan”. Tak ada campuran yang salah, semua bisa ditafsirkan. Dan kita masih bisa menyebutnya, Nasi Pecel. Pilar dasar dari pecel, yaitu sayur dan bumbu kacang, selalu ada, namun jenis sayur yang dipilih, sambal yang ditaburkan, hingga kondimen dan kerupuknya, tak pernah sama.

Setiap daerah punya favorit pecelnya masing-masing. Dan perbedaan itu tidak jadi masalah. Karena pada hakekatnya yang dicari dari semua penikmat pecel adalah rasa lezatnya yang pas, khas dan fenomenal di lidah.

Rasa lezat tersebut di dapat dari keseimbangan unsur rasa manis, gurih dan asin. Tidak boleh ada satu rasa yang paling dominan karena akan berakibat hambar rasa. Semua tunduk dalam takaran sang koki. Barulah diperoleh sajian dengan citra rasa yang menggetarkan lidah.

Filosofi pecel tersebut menginspirasi dalam kehidupan berjamaah. Keaneka ragaman karakter manusia ada di dalam jamaah. Makanya ada sarana syuro untuk menemukan titik keseimbangan dalam ramuan qiyadah. Beda qiyadah, beda gaya. Disinilah dibutuhkan kedewasaan dalam porsinya masing-masing.

Demikian hikmah yang bisa dipetik dari dua hari mengikuti kegiatan acara reses pertama anggota DPRD DKI Jakarta Ustadz Abdurrahman Suhaimi, MA, pada 6-7 April 2016 di Kecamatan Duren Sawit.

Acara reses sendiri secara kebetulan di selenggarakan di Warung makan pecel berkah yang ada di kawasan Buaran Duren Sawit. Acara reses dihari kedua (7 April 2016) dihadiri 100-an ustadzah para pembimbing majelis taklim se kecamatan Duren Sawit.

Acara yang berlangsung dari bada ashar ditutup menjelang sholat maghrib, dengan sebelumnya diberikan penghargaan dari Ustadz Abdurrahman Suhaimi, MA, pada para Ustadzah yang berprestasi dengan banyaknya majelis taklim yang dibina serta pada yang paling lama membina majelis taklim di wilayah kecamatan Duren Sawit.

Sedangan acara reses pada hari pertama (6 April 2016), yang diadakan di ruang pertemuan “Sederhana” dihadiri 100-an Ustadz Pembina-pembina remaja, pelajar dan Mahasiswa serta para fungsionaris DPRa- DPC se-Kecamatan Duren Sawit. Ustadz Abdurrahman Suhaimi, MA, mengingatkan tentang rumus hidup berjamaah,” Bila Qiyadah tidak di taati dan bila jundi tidak mentaati maka itu bukan berjamaah”.

Makanya perlu semua pihak memahami posisi masing-masing dalam bingkai jamaah dakwah. Tidak boleh ada pihak yang merasa lebih besar dari jamaah itu sendiri. Sehingga hasil-hasil syuro dimentahkan sendiri.

Ustadz Abdurrahman Suhaimi, juga menekankan pada tiga hal untuk mensikapi peristiwa terkini yang berhubungan dengan jamaah. Yakni; (1) berkaitan dengan pemberitaan. Media itu tidak semuanya benar dan tidak semuanya salah, jika ada berita dari orang fasiq bertabayunlah. (2) Sikap kita terhadap berita yg tidak enak terhadap pemimpin kita adalah husnudzon. Jangan sampai kita justru pihak yang paling pertama percaya, kemudian menyebarluaskan gossip tersebut. (3). Sikap kita terhadap kekeruhan adalah bergerak. Jangan diam. Sibukan diri kita dengan kebajikan. Wallahu “a’lam bishowab.

Suswoyo/ DPC Duren Sawi

Tuliskan komentar Anda..