Pahlawan Adalah Pribadi yang Multidimensional: Refleksi Kepahlawanan Teuku Umar

0

PKSiana, (catatan kunjungan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah ke Makam Pahlawan Nasional Teuku Umar di Kampung Mugoe, Kecamatan Kaway XVI, Kabupaten Aceh Barat, Sabtu 21 November 2015)

Pahlawan adalah kepribadian yang lengkap. Dalam dirinya berkumpul berbagai kebaikan multi dimensi.

Contoh terbaik adalah Nabi Muhammad SAW. Jika beliau jadi Imam, makmumnya menangis karena bacaannya. Jika beliau memimpin perang, semangat pasukannya membara. Jika melakukan negosiasi dagang dan lobi politik, lawannya bertekuk lutut. Dalam berkeluarga, Rasul memberi uang belanja kepada istri-istrinya untuk setahun, diberikannya di depan.

Pahlawan bukan yang hanya jadi orang kaya dan tergelincir, hingga melupakan perjuangan. Pahlawan juga bukan hanya bisa bertempur tanpa memikirkan pergaulan dan kesejahteraan, hingga akhirnya insya Allah jadi ISIS atau teroris.

Foto : PKSiana

Foto : PKSiana

Teuku Umar bertempur melawan Belanda saat berusia 19 tahun. Menikahi wanita pemberani dan cerdas Cut Nya Dhien. Bertempur hingga syahid di usia 45 tahun.

Dalam bukunya “Perang Aceh” Paul Van Teer menyatakan Teuku Umar seorang pribadi yang unik. Ia bisa hidup dengan gaya Eropa tapi bisa bertempur bertelanjang kaki.

Teuku Umar mampu berkomunikasi dan menyerap informasi dalam Bahasa Belanda dan Inggris.

Ia bisa hidup bagaikan baron dengan mengandalkan pengaruh, keseganan, kuasa, perdagangan lada, pemurah di tengah-tengah pengikutnya yang fanatik nan sejahtera.

Namun Teuku Umar juga bisa berperang bergerilya di hutan-hutan Aceh, hidup dalam kesusahan.

Setelah syahid di Meulaboh, selama dua tahun makamnya dipindah-pindahkan. Selain untuk memuslihati Belanda yang gemar memenggal kepala pejuang Indonesia untuk ditukar hadiah gulden di negaranya, taktik itu juga untuk menjaga nyala perjuangan di dada pahlawan di seluruh Aceh : bahwa Teuku Umar masih hidup dan memimpin perjuangan mereka.

Teuku Umar berjuang dalam sunyi. Teuku Umar tak pernah mengira semangat perjuangannya terus hidup bahkan hingga kini, 116 tahun sejak syahidnya.

Tuliskan komentar Anda..