Nur Mahmudi Ismail: Politik Ibarat Pisau Bermata Dua

0

GatraNews, Jakarta¬†– Politik itu ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi bisa digunakan untuk kemanfaatan, namun di sisi lainnya bisa digunakan untuk kemudlaratan atau kejahatan. “Jika pisau itu di tangan seorang ibu rumah tangga, barangkali akan dipakai untuk memotong sayuran. Namun jika pisau itu ada di tangan penjahat, bisa jadi digunakan untuk menodong atau bahkan membunuh,” kata Nur Mahmudi Ismail (NMI).

Itulah cuplikan dari buku “Perjalanan Sejuta Makna”, karya terbaru politisi Partai Keadilan Sejahtera yang menjadi Wali Kota Depok, Jawa Barat itu. Buku terbitan Gramedia Pustaka itu ditulis sebagai salah satu upaya memperkenalkan NMI lebih dekat kepada segenap rakyat Indonesia, khususnya generasi muda penerus bangsa, agar nilai-nilai perjalanan NMI bisa dipetik inspirasinya dan dijadikan teladan.

“Satu hal yang menjadi pegangan saya sebelum masuk ke dunia politik yang tengah memanas pasca-reformasi 1998, yaitu keyakinan bahwa politik bisa menjadi jalan untuk mengubah negara ini menjadi lebih baik,” ujar NMI, dalam keterangan tertulis yang diterima GATRAnews, di Jakarta, Kamis (12/11).

NMI adalah sosok yang menyandang predikat cukup komplit, yakni politisi, birokrat, ilmuwan, dai/pendakwah, sekaligus peneliti. Di kancah politik, ia dikenal sebagai pendiri Partai Keadilan (PK), cikal bakal PKS. Di kancah pejabat publik, ia dikenal sebagai mantan Menteri Kehutanan dan Perkebunan, sekaligus Wali Kota Depok periode 2005-2015. Sedangkan di bidang pendidikan, ia dikenal sebagai dosen sekaligus ilmuwan pangan.

“Dari riwayat perkembangan karier sebagai peneliti maupun sebagai pejabat, kita mengetahui bahwa pengalaman kerja beragam dan berlangsung secara intensif menjadikan NMI sebagai salah satu yang produktif dan unggul yang patut diteladani inovasi dan kepemimpinannya,” komentar Mantan Presiden BJ Habibie, dalam kata pengantar buku itu.

NMI juga tercatat sebagai peneliti senior di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Menariknya lagi, di tengah sederet status penting di berbagai bidang, ia juga masih aktif sebagai dai yang sering memberikan ceramah di masjid-masjid.

NMI memang bukanlah sosok yang fenomenal di media nasional. Bahkan publik yang mengenalnya hanya lewat berita media, cenderung lebih banyak melihat sisi kontroversinya. Namun jika menyelami pribadinya lebih jauh dan mengenalnya lebih dekat, NMI digambarkan sebagai sosok yang sederhana dan bersahaja, perangainya tidak istimewa, tuturnya santun, dan selalu menebarkan senyum.

“Saya menghormati NMI karena ia tidak melihat jabatan dalam pengabdiannya. Itu suatu contoh yang baik bagi pendidikan berbangsa dan bernegara saat ini. Orang itu yang penting pengabdiannya, bukan jabatannya,” kata Wakil Presiden Jusuf Kalla, dalam pengantar buku “Perjalanan Sejuta Makna”.

 

 

sumber : gatranews

Tuliskan komentar Anda..