Mohamad Sohibul Iman, Penyiar Radio yang Jadi Presiden Partai

0

CNN, Jakarta – Lahir dan dibesarkan di Tatar Pasundan, Tasikmalaya, Mohamad Sohibul Iman sudah menempa diri dalam organisasi sejak dia duduk di bangku Sekolah Dasar. Mulai dari Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) hingga Praja Muda Karana (Pramuka) dijajal Sohibul hingga dia menginjak remaja di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA).

Aktivitas ekstrakulikuler di luar kegiatan akademik pria kelahiran 5 Oktober 1965 itu terus berlanjut setelah dia hijrah dari Tasikmalaya untuk menimba ilmu di Institut Pertanian Bogor. Persinggahan dia di Kota Hujan tidak lama. Pendidikan di IPB hanya tuntas sampai di Tingkat 2.

Sohibul memilih hijrah lebih jauh dalam arti harafiah. Dia memutuskan mengejar beasiswa ke Jepang dengan berbekal penguasaan dasar bahasa Jepang yang dia peroleh dari kursus selama enam bulan di Jakarta.

Di Jepang, Sohibul tidak langsung kuliah. Dia masih butuh mempertajam penguasaan bahasa Jepangnya yang belum maksimal. Pada 1988-1987, Sohibul muda lantas menghabiskan waktunya di Negeri Sakura dengan menjalani kursus bahasa Jepang di Takushoku University, Tokyo.

Perjuangannya tidak sia-sia. Usai diterima di Waseda University, Tokyo, Sohibul pun akhirnya menyandang gelar Bachelor of Engineering pada 1992.

Pada saat yang bersamaan, Sohibul muda kala itu sudah mulai menjalin hubungan akrab dengan Uswindraningsih Titus, mahasiswi yang sama-sama sedang studi di Jepang lewat program beasiswa. Perempuan yang kelak menjadi belahan jiwa Sohibul itu adalah adik dari temannya di IPB yang pernah memberi tahu tentang program beasiswa.

Tapi gelar sarjana di Negeri Samurai itu belum cukup bagi Sohibul muda. Dia masih haus ilmu dan mengincar gelar S-2 di Takushoku University, tempat dia kursus pertama kali saat tiba di Jepang.

Bagaimanapun, Sohibul tak ingin menyia-nyiakan gelar sarjananya. Sembari menempuh pendidikan S-2, Sohibul pun lantas memilih untuk berkarier sebagai penyiar di Radio Jepang NHK.

Profesi penyiar radio itu merupakan pekerjaan pertama yang dilakoni Sohibul muda setelah dia menyandang gelar sarjana di Jepang. Pekerjaan itu hanya berlangsung dua tahun. Sohibul mengakhiri profesi kepenyiaran berbarengan dengan kelulusan pendidikan di tingkat S-2. Pada tahun 1994, Sohibul resmi meraih gelar Master of Engineering dari Takushoku University, Tokyo.

Merasa telah kenyang menempa diri dalam budaya disiplin tinggi di Jepang, Sohibul pulang ke tanah air. Di Indonesia, Sohibul bergabung menjadi peneliti Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal).

Memasuki 1998, Indonesia bergejolak dirundung semangat reformasi usai tumbangnya kekuasaan Orde Baru. Partai-partai baru pun mulai bermunculan. Sohibul sempat bergabung dengan Partai Keadilan (PK) sebagai Ketua Departemen IPTEK-LH, DPP PK.

Oleh karena terdapat aturan pegawai negeri sipil tidak diperkenankan jadi pengurus partai, Sohibul pun memilih keluar dari partai yang menjadi cikal bakal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Kala itu, Sohibul memilih lanjut meneruskan karier sebagai peneliti dengan bergabung di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (1998-2005). Selama itu pula Sohibul sembari menempuh pendidikan S-3 di Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST).

Dunia akademisi Sohibul semakin matang. Usai menerima gelar S-3, Sohibul dipercaya menjadi Rektor Universitas Paramadina (2005-2007). Sampai pada tahap ini, capaian dunia akademik Sohibul bisa dibilang telah mencapai puncaknya.

Lepas dari Paramadina, Sohibul mencoba peruntungan menjadi konsultan teknologi di dunia perusahaan. Namun rupanya dunia konsultan itu tidak cukup mengembangkan bakatnya didunia organisasi yang sudah dia tekuni sepanjang kariernya.

Pada 2009, Sohibul pun akhirnya kembali ke pangkuan PKS yang kemudian menjadi kendaraan politik untuk mengatar dia duduk sebagai wakil rakyat di parlemen. Di sinilah pengalaman akademik dan organisasi Sohibul bersinergi dengan wawasan politik yang sempat dia enyam pada masa awal reformasi.

Kredibilitas dia di panggung politik teruji. Pada 2013-2014 dia ditunjuk PKS untuk menampuk kursi Wakil Ketua DPR menggantikan Anis Matta yang memilih fokus menjabat Presiden PKS.

Setahun berselang, 2015, estafet jabatan itu kembali terjadi. Kini giliran Sohibul berada di pucuk kepemimpinan partai.

 

 

Berita Selengkapnya!

Tuliskan komentar Anda..