MENTALITAS PEMENANG ERDOGAN, AKP DAN STAMINA DAKWAH KITA (Bagian III)

1

PKSiana, Aceh – Transkrip Taujih Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah saat bertemu ramah dengan kader dan simpatisan dari 6 DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Barat dan Selatan Aceh, Jumat (20/11/15)

(Baca Bagian II :  MELIHAT KELUAR DAN MEMBACA PERUBAHAN)

1. Kita tidak bisa cepat-cepat membandingkan diri dengan AKP. Seolah kita banyak miripnya dengan mereka. Meski sangat terpesona kepada mereka. (Kita) Beda.

2. 1453 Al Fatih menaklukkan Byzantium. Pada saat yang sama Nusantara sedang kedatangan Belanda dan penjajahan berlangsung 350 tahun.

3. Ketika mereka (Turki) menguasai Eropa, kita dikuasai Eropa. Itulah yang menyebabkan kadang-kadang mental kita rusak.

4. Kepercayaan diri lemah. Lihat orang kulit putih gugup. Kalah wibawa.

5. Kita tidak akan bisa sampai pada mentalitas pemenang & kepercayaan diri yang kuat sampai kita perkuat iman

6. Maka manuver Erdogan itu adalah suatu manuver pemenang. Dia merasa (Turki) diganggu, dia jaga pemerintahan, dia tantang (dunia luar)

7. Di tahap-tahap awal dulu, ketika menang pertama, di depan Masyarakat Ekonomi Eropa, Erdogan bilang “Anda pilih saya yang Muslim tapi saya bersih, dan saya hidupi masyarakat saya, atau Anda pilih militer yang menyebut dirinya pelanjut sekularisme Attaturk tapi mereka korup dan gagal sejahterakan rakyat?”

8. Eropa bingung tapi tak apa. Tantangan itu keras menghantam. Sekularisme Turki berakhir. Mafia-mafia militer ditangkap masuk bui, karena ‘abuse of power’ dan merusak sistem bernegara

9. Lalu Turki diganggu lagi. Kurdhistan memberontak, Suriah bergejolak. Pengungsinya masuk Turki. Ada 2 juta pengungsi Suriah sekarang di Turki. Setengahnya bawa uang, setengahnya uangnya habis. Dikasih makan mereka sama Erdogan. 60 Trilyun habis untuk menghidupi pengungsi setiap tahun.

10. Erdogan percaya diri. Dia tantang Kurdhistan & sekarang mereka telak memimpin Turki.

11. Itulah mentalitas pemenang. Jangan kita takut dan minder bertemu musuh. Begitulah confidence seorang Muslim.

12. Satu bangsa harus memiliki kecemburuan, suatu semangat untuk menang. Kalau tidak bangsa itu akan hilang.

13. Anak-anak muda tidak lagi punya hamasah. Tidak bangga dengan identitas dirinya. Jika dibiarkan kita akan melihat bangsa yang musnah.

14. Dengan cara pandang seperti itu lihatlah politik dengan santai, karena politik itu mudah.

15. Kemenangan itu buat kita hanya soal waktu. Tapi kita ingin menang dan bertahan. Bukan seperti harga saham yang naik-turun.

16. Itu yang kita pelajari dari Arab spring. Partai Islam tumbuh tanpa perhitungan, karena provokasi mengambil kemenangan sebelum waktunya.

17. Di Mesir As-Sisi bersandiwara (di depan Mursi). 11 bulan dia menipu, lalu menikam dari belakang.

18. Dalami politik secara matang. Pahami benar siapa kawan yang setia.

19. Kader ini jangan ‘jaim’ (jaga image). Hidup di tengah masyarakat secara riil. Hadapi permasalahan. Jangan menghindar. Supaya kita paham peta.

20. Jika terluka, keluar sebentar setelah diperban. Suatu hari ketika kita memutuskan INI WAKTUNYA, maka kita bersiap dengan cepat.

21. Karena kita ingin kemenangan itu bertahan seterusnya, dan kemenangan itu membawa kebaikan dan rahmat bagi semua orang.

22. Karena keruntuhan lain sedang terjadi. Eropa sedang runtuh. Mustahil mengobatinya.

23. Kita tidak bisa menyelematkan peradaban sekular yang anti agama. Penyakit itu ada dalam diri mereka dan mereka (Eropa) akan hancur.

24. Tapi sudah siapkah kita (menggantikan Eropa dan membangun peradaban) dengan bekal yang baik?

25. Sebagaimana pesan Imam Syahid : “Tegakkan Islam dalam dirimu, maka Islam akan tegak di dunia/ sekelilingmu”

 

 

–SELESAI–

1 Comment

  1. Pingback: MELIHAT KELUAR DAN MEMBACA PERUBAHAN (Bagian II) | PKSiana

Tuliskan komentar Anda..