MELIHAT KELUAR DAN MEMBACA PERUBAHAN (Bagian II)

2

PKSiana, Aceh – Transkrip Taujih Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah saat bertemu ramah dengan kader dan simpatisan dari 6 DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Barat dan Selatan Aceh, Jumat (20/11/15)

(Baca Bagian I : REFLEKSI INTERNAL & MAKNA PERJUANGAN)

1. Soal menang dan berkuasa bagi partai ini hanya soal waktu saja. Karena kita membangun sesuatu yang riil. Kita membangun kader seorang demi seorang

2. 21 tahun yang lalu saya bertemu dengan Ustadz Raihan Iskandar di Jakarta, di Depok atau Cawang
Tahun 1994 suasana masih mencekam. Belum terbayang waktu itu kita bisa bertemu dalam suasana seperti ini saat ini

3. Kita duduk waktu itu 4 sampai 5 orang dan bicara tentang apakah kita sudah jadi orang baik. Apakah ada yang lebih dari sekedar semua ini. Apakah ada yang lebih mulia dari hidup yang kita jalani sekarang. Apakah kita sudah mengenal pencipta kita.

4. (Kita menjalani) Semua dalam suasana tarbiyah yang indah. Perjalanan setahap demi setahap.

5. Tahun 2000 saya datang ke Banda Aceh karena diminta Gus Dur dan pak Amien Rais untuk membawa bantuan dari masyarakat Jepang untuk masyarakat Aceh. Aceh sendiri saat itu masih seram
Tapi alhamdulillah sekarang keadaan terus makin baik.

6. Kita sendiri sudah ada yang jadi Gubernur dan Menteri. Gubernur dari provinsi yang paling besar. Wakil Ketua DPR, Wakil Ketua MPR. Ketua MPR (sudah pernah kita rasakan)

7. Tapi itu semua lahir dari suasana perbaikan internal kita. Pertama, pertumbuhan jumlah kader. Kedua, perkembangan struktur dan jaringan. Ketiga, akumulasi sumber daya

8. Confidence (rasa percaya diri) kita terus bertambah. Kapasitas kader kita makin bertambah. Kemampuan menghadapi masalah juga makin besar. Kapasitas individu dan struktur juga makin baik. Kemampuan individual kita makin mendekati seperti yang disebut dalam Al-Quran : 1 mengalahkan 1000 orang

9. Berikutnya, tidak ada organisasi yang kepasitas belajarnya seperti kita. Cuma memang, kita dalam belajar masih terlalu banyak pasif. Kadang kepercayaan diri kita batasi sendiri.

10. Kenapa kader kita kurang confidence? Ini soal di dalam. Kurang berani & kurang kuat kita menghadapi kenyataan.

11. Syeh Mahmud Nahnah (Aljazair) pernah datang di Indonesia dan saya tidak bisa lupa kalimatnya “Jika kalian yakin bahwa percaya dengan diri kalian dan Allah selalu memperbarui iman kalian, maka dengan setan pun kalian akan bergaul. Karena kita percaya setan lah yang berubah jadi baik karena kalian. Dan bukan sebaliknya”

12. Jangan dibalik, kita ini dipepet oleh orang lain sehingga kita keluar dari sejarah. Jangan biarkan kekafiran itu memepet kita sehingga kita keluar gelanggang. Kita yang harus masuk dan menguasai lapangan!! Jangan dibalik.

13. Tapi juga tahu diri. Ketika masuk lapangan sudah tahu kita luka karena tertembak, perbaiki diri dulu. Mundur dan minta diperban. Nanti sembuh masuk lagi.

14. Begitulah dakwah ini mengajarkan dari dulu. Mengapa Islam ini menyebar secara cepat bahkan sampai di Aceh ini terciptalah kesultanan & kerajaan yang banyak, lalu ekspansi ke Jawa dan Islam mengubah hidup banyak orang.

15. Kalau tidak begitu nanti antum makin ke pinggir dan menarik diri. Makin salah cara berpikirnya. Makin tidak mau bergaul dan tinggal sendirian.

16. Jangan ada minder karena iman. Dunia ini permainan saja. Jangan sampai membuat kita jadi ciut dan penakut.

17. Coba baca kisah perang di jaman Rasul. Seperti orang tidak kapok-kapoknya. Kalah, siapkan diri, maju. Luka, mundur sebentar, maju lagi. Tidak ada jera.

18. Sehingga dalam perspektif politik di Indonesia itu yang perlu kita pelajari. Kita juga harus menjaga ukhuwah. Jika ada masalah, bicarakan. Karena kita satu visi dalam perjuangan. Jangan saling omong di belakang.

19. Kemarin saya di Jakarta Timur diminta bicara tentang AKP (Turki). Saya ceritakan tentang watak demokrasi. Dan demokrasi itu jika kita tidak hati-hati, kita bisa kena tipu. Demokrasi itu permainan yang unik.

20. Diantaranya adalah bahwa dalam demokrasi itu, suara atau kedaulatan diletakkan di kotak suara. Dan kotak suara itu bersumber pada opini. Dan opini itu sifatnya seringkali sementara

21. Dalam demokrasi kita sering melihat pemandangan yang aneh. Orang yang kita anggap tidak layak jadi pemimpin, tiba-tiba jadi pemimpin. Tapi itu faktanya.

22. Jadi selain bekal internal (kader, struktur, sumber daya) kita juga bertemu bahwa syarat lain dalam memenangkan demokrasi adalah cara bermain opini dan isyu.

23. Karena kedaulatan dalam demokrasi itu seperti harga saham atau kurs uang

24. Ada orang yang saat ini dihormati luar biasa, besok dimaki dan disuruh mundur. Kita sudah memutuskan masuk ‘game’ ini (demokrasi) karena itu kita harus berani.

25. Mentalitas orang yang bisa menang (dalam demokrasi) adalah mentalitas penguasa dan penakluk. Mentalitas yang gagah. Itu yang kita lihat di diri Erdogan

 

(Bersambung ke Bagian III : MENTALITAS PEMENANG, BELAJAR DARI ERDOGAN DAN AKP)

2 Comments

  1. Pingback: REFLEKSI INTERNAL & MAKNA PERJUANGAN (Bagian I) | PKSiana

  2. Pingback: MENTALITAS PEMENANG ERDOGAN, AKP DAN STAMINA DAKWAH KITA (Bagian III) | PKSiana

Tuliskan komentar Anda..