Lebih Baik Menag Bicara Hal Strategis, Daripada Buat Kontroversi

0

RMOL, Jakarta –¬†Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin terus membuat kontroversi. Setelah meminta pembacaan ayat Al Quran menggunakan langgam Jawa, kini jelang Ramadhan dia kembali mendapat sorotan karena meminta umat Islam yang berpuasa untuk menghormati orang yang tidak puasa.

Pernyataan Lukman tersebut disampaikan melalui akun twitter-nya @lukmansaifuddin. “Warung2 tak perlu dipaksa tutup. Kita hrs hormati jg hak mrk yg tak berkewajiban dan tak sedang berpuasa.”

Menurut Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jazuli Juwaini, pernyataan Menag Lukman tidak tepat logika dan proporsinya. Juga tidak sejalan dengan semangat kerukunan antarumat beragama yang selama ini sudah terjalin dengan baik.

“Pernyataan Menteri Agama justru memicu masalah. Menag tidak boleh memicu kegaduhan dalam kehidupan dan kerukunan umat beragama. Harusnya Menag bicara yang lebih strategis,” ungkap Jazuli di sela-sela Rapat DPR di Senayan, Jakarta, Rabu (10/6).

Menurut Jazuli, sudah menjadi kelaziman sejak dahulu untuk lebih menghormati orang yang sedang beribadah. “Jadi Menag ini logikanya kebolak-balik dan terkesan tidak paham bagaimana mempromosikan kerukanan,” kata Anggota Komisi III ini.

Kerukunan umat di Indonesia, lanjut Jazuli, saat ini sudah cukup bagus. Hal ini terbukti saat umat Kristiani melaksanakan ritual ibadahnya, semua umat bergama memberi penghormatan. Begitu pula, sambung Jazuli, saat ibadah umat Hindu, Budha, Konghucu, semua menghormati mereka. Bahkan, ketika perayaan Nyepi di Bali, semua aktivitas harus berhenti, dan tidak ada persoalan karena semua umat sadar untuk menghormati umat agama lain yang sedang beribadah.

“Maka ketika umat Islam sedang melaksanakan ibadah puasa sudah menjadi kelaziman umat agama lain atau sesama muslim yang sedang tidak berpuasa menghormati yang berpuasa,” ungkap Ketua DPP PKS ini.

Lebih lanjut politisi PKS daerah pemilihan Banten III ini meminta Menag Lukman Hakim agar jangan memiliki logika yang terbalik, jika itu yang diikuti dikhawatirkan mengarah pada tidak adanya penghormatan kepada umat beragama yang sedang beribadah karena standar penghormatan tidak jelas, yakni yang beribadah diminta menghormati yang tidak sedang beribadah.

“Pun dalam konstitusi jelas tertulis penghormatan dan perlindungan kepada pemeluk agama untuk melaksanakan ibadah sesuai keyakinan dan kepercayaannya,” tegas Jazuli.

 

 

Berita Selengkapnya !

Tuliskan komentar Anda..