HUT, Momentum Perbaikan Pembangunan Kota Jakarta

0

KoranJakarta, Jakarta – Belum lama ini, tepatnya Senin (22/6), Kota Jakarta genap berusia 488 tahun. Usia yang hampir lima abad ini tentunya merupakan perjalanan panjang, sekaligus sebagai momentum melakukan otokritik dalam pengelolaan kota yang kian majemuk. Berbagai tanggapan pro dan kontra semestinya bisa sebagai masukan dalam mendewasakan diri bagi stakeholder Kota Jakarta.

Wakil Ketua Kadinda DKI Jakarta Sarman Simanjorang mengungkapkan, persoalan utama Kota Jakarta yakni keterlambatan mewujudkan pembangunan infrastruktur kota. Seolah, penyelesaian persoalan kemacetan, banjir serta kesejahteraan sosial, berjalan agak lamban. Persoalan utama, yakni tingkat penyerapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang rendah karena dipicu persoalan multi aspek.

Pengurus Kadinda DKI Jakarta ini mengharapkan ke depan agar Gubernur dan DPRD DKI Jakarta bisa bersinergi, melaksanakan amanah masyarakat Jakarta dan menghindari polemik yang dapat mengganggu kelangsungan pembangunan Jakarta.

Sarman berharap juga, pengesahan APBD DKI Jakarta tahun 2016 bisa dipercepat sehingga penyerapanya dapat lebih awal, sehingga pembangunan infrastruktur di DKI Jakarta dapat direalisasikan lebih baik. “Pemprov DKI Jakarta saatnya lebih fokus untuk membenahi berbagai infrastruktur ibukota sejalan dengan kebutuhan dunia usaha.”

Gubernur DKI Jakarta, harap Sarman, bisa memberikan dukungan dan proteksi kepada para pimpinan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) sehingga para Kepala SKPD dapat lebih produktif untuk melaksanakan berbagai program pembangunan di lingkungan masing-masing.

Dengan begitu, penyerapan tahun depan akan bisa mencapai 80-90 persen dan Silpa (sisa lebih penggunaan anggaran) dapat lebih ditekan. Menurut Sarman, perayaan ulang tahun ke 488 Kota Jakarta seharusnya dapat dijadikan momentum untuk evaluasi baik secara internal maupun eksternal, mengingat pembangunan infrastruktur dua tahun terakhir ini di DKI Jakarta relatif minim. Diketahui, APBD DKI Jakarta 2014 sebesar 72 triliun rupiah hannya terserap sekitar 40 persen. Disisi lain, tahun 2015 dengan postur APBD yang sama penyerapannya diperkirakan tidak jauh dari tahun lalu.

Disisi lain, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Triwisaksana dari Partai Keadilan Sejahtera mengungkapkan, hasil survei Indeks Kebahagiaan Penduduk Jakarta Tahun 2014 yang dilansir oleh Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan angka 69,21. Diketahui, angka ini berada dibawah beberapa provinsi yang memiliki Indeks Kebahagiaan yang lebih tinggi dengan tiga teratas adalah Riau dengan Indeks 72,42, Maluku 72,12 dan Kalimantan Timur 71,46.

Menurut Sani, sapaan akrab Triwisaksana, indeks ini menunjukkan aspek geliat ekonomi yang tinggi di Kota Jakarta, bukan merupakan variabel utama penentu kebahagiaan, “Ini sebabnya indeks kebahagiaan juga disebut beyond GDP karena diukur bukan hanya berdasarkan tingkat ekonomi suatu wilayah,” ujarnya.

 

 

Berita Selengkapnya !

Tuliskan komentar Anda..