Sekotak Hikmah

0

Oleh : Elenra

Ketika sedang menunggu jadwal terapi ayah di ruang Radioterapi di RSCM, saya mengirim seulas senyum kearah seorang ibu yang duduk bersisian disebelah kiri. Tanpa diduga, beliau membalas senyum saya, dilanjutkan dialog sederhana. Sampai pada sesi mencurahkan isi hatinya. Dari hasil mendengarkan cerita beliau, saya kembali mendapatkan hadiah istimewa dari ALLAH SWT, berupa sekotak hikmah…

Ibu Salem, namanya, berusia 44 tahun. Sudah tiga minggu berada di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo untuk mengobati penyakit kanker servik yang dideritanya. Dikarenakan kamar di Rumah Sakit pemerintah ini penuh, maka Ibu Salem disarankan untuk berobat jalan. Selama tiga minggu beliau tinggal di rumah singgah dekat kamar mayat di lantai empat, dengan biaya Rp.15.000/ hari.

Sebelumnya, beliau tidak merasakan gejala sakit apa-apa, mungkin dikarenakan belia fokus mengurus suaminya yang mengalami stroke selama 17 bulan. Setelah sang suami meninggal dunia pada tanggal 31 Desember 2014 lalu, Ibu Salem baru merasakan nyeri luarbiasa pada bagian bawah perutnya. Dia berobat di Desa, tapi tak kunjung sembuh. Kemudian diminta berobat ke Kota, dan terakhir dirujuk ke RSCM Jakarta ini.

Beliau juga menceritakan tentang pertemuan pertama dengan almarhum suaminya. Saat masih belia, Ibu Salem bekerja di sebuah restauran sebagai juru masak di Kota Bekasi, dan sang suami sebagai supir taxi. Mereka memutuskan menikah, dan berjuang mencari sesuap nasi di hiruk pikuk Ibu kota. Ketika sang suami mendadak terserang stroke, maka mereka sekeluarga kembali ke kampung halamannya, di Desa Hanjata Baru – Indramayu. Selama menceritakan kisah hidupnya, tampak kerinduan teramat sangat dikedua bola matanya yang sendu. Wajah beliau terlihat pucat, namun sesekali senyumnya mengembang dan masih terlihat binar di kedua-matanya. *haru*

Ibu Salem dan almarhum suaminya adalah sama-sama anak tunggal. Mereka memiliki seorang anak yang kini telah menikah dan memiliki dua orang cucu. Anak perempuannya tidak mendapatkan izin dari tempat berkerja untuk menemani ibunya berobat di Jakarta. Sedangkan Ibu Salem kini sangat bergantung dari gaji anak semata wayangnya itu. Mau tidak mau, Ibu Salem datang ke ibukota untuk berobat seorang diri.

Dia sering menangis sendirian di rumah singgah. Menangis karena rindu pada almarhum suaminya, rindu dengan anak serta kedua cucu, dan menangis karena menahan rasa sakit yang dideritanya.

Jangan tanya berapa kali saya harus menghapus butiran hangat yang berdesakkan keluar dari sisi-sisi kedua bola mata. Airmata ini benar-benar tidak bisa bekerja-sama untuk menahan laju tiap bulirnya barang sekejab saja…Hiks

Bisakah dibayangkan, seorang ibu yang telah di vonis positif mengidap salah-satu penyakit berbahaya bagi wanita, yaitu kanker servik dengan stadium 3 B harus bersusah payah menahan sakit seorang diri? Berada di Ibukota selama tiga minggu dengan sedikit uang bantuan dari para tetangganya? Menunggu untuk berobat selama berjam-jam setiap harinya? Membanyangkan saja sudah cukup buat saya terisak.

Lebih dari satu jam lamanya, wanita bertubuh mungil dan kurus selalu disampingku memegangi perutnya. Hati dan pikiran saya mendadak satu suara : Bertanya, Ra!

“Ibu sudah makan pagi, atau belum?”

Dengan tenang beliau mengatakan : “Belum, karena takut kelewat nomer panggilan, De.”

Saya segera izin ke kantin, dengan alasan akan membeli sebotol teh dalam kemasan. Sekembalinya dari kantin, saya memberikan sekotak makanan dan air mineral didalam kantong plastik. Beliau sempat menolaknya, namun saya terus memaksa agar beliau memiliki tenaga. Alhamdulillah, akhirnya beliau mau menerima dan memakannya dengan sangat lahap. Hanya sekotak dus makanan dan sebotol air mineral, barisan doa mengalir dari lisan beliau. Saya merasa tidak pantas menerima doa indah itu… Hiks. Mengapa tidak kau simpan saja doa itu dalam hatimu, Bu. Pasti hatiku akan lebih bahagia karenanya. Tidak lupa saya memberikan sedikit rezeki untuk beliau pergunakan selama pengobatan. Sayangnya, saya tidak bisa menghubunginya, karena beliau tidak memiliki alat komunikasi.

Hikmah yang bisa saya dapatkan dari curahan hati seorang Ibu ini adalah, harus banyak BERSYUKUR dan BERSABAR. Bersyukur atas waktu yang masih diberikan, atas kesehatan, atas segala karunia yang tiada berbatas Dari Allah Subhanallahu Ta’ala. Dan harus terus bersabar dalam menjalaninya segala ujian-Nya.

Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban……..

( Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan )

Lantas, masih pantaskan kita mengeluh, segala yang sudah Allah Ta’ala berikan selama ini? Sedangkan setiap detik kehidupan kita selalu diurus Oleh-NYA?
Semoga ALLAH SWT berikan kekuatan serta kesabaran bagi Ibu Salem dalam menghadapi ujian-Nya. Diangkat penyakitnya bila itu berkah baginya…Aamiin.
Terima-kasih atas ceritamu, Bu…

Tuliskan komentar Anda..