Menggelora CINTA Di Ranah DAKWAH

0

PKSiana – Tergelitk ketika membaca sebuah artikel di sebuah majalah lama dengan judul “Ekspresi Cinta Aktivis Dakwah” untuk melanjutkannya dalam pembahasan santai-sesantai al’a soup chiken. Bicara ‘cinta’ tak pernah bisa lepas dari nuansa romantisme yang berkaitan erat dengan ‘sang hati’, dimana hati merupakan sumber segala bentuk ‘kehalusan’ dalam bentuk rasa. Sebagaimana Syaikh Yahya ibn Hamzah Al-Yamani dalam kitab kontemporernya mengenai pembahasan pelatihan jiwa.

Nama hati menunjukan realitas yang lembut dan bersifat ketuhanan (lathifah ilahiyyah). Lathifah ini adalah hakikat manusia ialah yang dititah, dituntut, diberi pahala dan dihukum. Jika bicara ‘cinta’ pada keumumannya akan menemukan realitas berbeda yang sebenarnya jauh dari keterkaitannya dengan hati. Kalaupun ada, itu sifatnya hanya ‘selewat-sesaat’. Ia lebih berupa nafsu yang implikasinya jikatak dibarengi dengan pembinaan robbani akan terkena satu hakikat (dari beberapa hakikat lathifah yang disebut di atas) bahwa ia hanya akan mendapat hukuman karenanya.

Berbeda halnya, bicara cinta dengan variasi warna yang semuanya terbimbing oleh spiritualitas (keagamaan), ya.. inilah dimana perasaan cinta dalam diri manusia – terhadap manusia yang lainnya – hadir dan menjadi bagian yang mewarnai pentas perjuangan dakwah para aktivisnya.

Pamor para aktivis dakwah telah menggeliat dari era 80-an ketika pemikiran – pemikiran islam yang lebih (dinilai) ‘segar-muda’ mulai menjalar di berbagai perguran tinggi nusantara. Tulisan-tulisan Muhammad Abduh, Mawlana Maududi dengan gaya reformis islamnya menuju pemurnian agama dengan tanpa menolak gagasan dan banyak ide baru.

Bertambah militan dengan tersebar juga risalah milik Imam As-Syahid Hasan Al-Banna dalam ‘Memoar’-nya juga Ma’alim Fii Thariq, Fi Zhilalil Qur’an oleh As-Syahid Sayyid Quthb. Para aktivis dakwah tersebar memenuhi kota-kota metropolitan yang hedonis untuk menyampaikan pesan-pesan moral dengan gaya ‘anak muda’ yang lebih bisa diterima.

Terorganisir dalam beberapa harakah dakwah dengan warnanya masing-masing. Mengemban tugas dakwah yang merupakan warisan para nabi. Dakwah adalah sebuah kerja berat yang membutuhkan, menguras segala potensi yang ada. Ia bertumpu pada ilmu yang dimiliki, ruhani yang sentiasa tersirami energi robbani dan jasad yang dituntut kuat agar segala aktivitas dakwah dapat dijalani dengan se-enerjik mungkin=hasil yang optimal.

 

 

kiriman dari : Ahmad Bawazir

Tuliskan komentar Anda..