Cangkir Teh Kehidupan

0

Oleh : K. Tatik Wardayati

 

Alkisah, hiduplah pasangan yang sangat menyukai mengumpulkan barang-barang antik. Mereka selalu pergi untuk menambah koleksi mereka.

Suatu hari, mereka melihat sebuah cangkir teh yang indah di sebuah toko antik kecil. Mereka bertanya kepada wanita penjualnya, “Kami belum pernah melihat cangkir yang begitu indah”, wanita penjual itu menyerahkannya kepada mereka, tiba-tiba cangkir itu berbicara.

“Aku tidak hanya cangkir teh. Ada suatu masa ketika aku hanya tanah liat merah. Tuanku membawaku dan dia mulai mengguling-gulingkan dan menepukku berulang. Aku berteriak, “Tinggalkan aku sendiri”, tapi dia hanya tersenyum, “Belum”.

Kemudian aku ditempatkan pada roda berputar, dan terus diputar. “Hentikan! aku mulai pusing!”, aku berteriak. Tapi tuanku hanya mengangguk dan berkata, “Belum”.

Lalu ia menaruhku di oven. Aku tidak pernah merasa panas seperti ini. Aku bertanya-tanya mengapa ia ingin membakarku, aku berteriak dan mengetuk pintu. Aku bisa melihat dia melalui kaca, dan aku bisa membaca bibirnya, sambil menggeleng, “Belum”.

Akhirnya, pintu terbuka, ia menempatkan aku di rak, dan aku mulai dingin. “Nah, itu lebih baik”, kataku. Dan tuanku menyikat dan mengecat seluruh tubuhku. Asap yang mengerikan. Aku pikir aku akan muntah. “Hentikan, hentikan!”, aku menangis. Tuanku hanya mengangguk, “Belum”.

Lalu tiba-tiba ia menempatkanku  kembali ke dalam oven, tidak seperti yang pertama. Ini adalah dua kali lebih panas, dan aku tahu kali ini akan mati lemas. “Saya memohon, saya memohon Tuan”, Saya berteriak dan menangis. Tapi ketika aku melihat di kaca oven, tuanku menganggukkan kepala berkata, “Belum”.

Tak ada harapan. Aku sudah siap untuk menyerah. Tapi pintu terbuka, dan dia membawaku keluar lalu ditempatkan di rak. Satu jam kemudian ia menyerahkan cermin dan berkata, “Lihatlah dirimu!”. Dan aku melihat bayanganku dikaca, “Itu bukan aku. Cantiknya! Aku cantik!”

“Aku ingin kau ingat, saat itu”, kata tuanku. “Aku tahu ini menyakitkan untuk digulung dan ditepuk, tetapi jika aku meninggalkanmu sendirian kau akan kering.

Aku tahu itu membuatmu pusing berputar diroda, tetapi jika aku berhenti, kau akan hancur.

Aku tahu itu sakit dan panas dan tidak menyenangkan dalam oven, tapi jika aku tidak menempatkanmu di sana kau akan retak.

Aku tahu asap yang buruk ketika aku sikat dan cat seluruh tubuhmu, tetapi jika aku tidak melakukan itu kau tidak akan pernah mengeras, kau tidak akan memiliki warna dalam hidupmu.

Jika aku tidak menempatkanmu kembali dalam oven kedua, kau tidak akan bertahan untuk waktu yang lama karena tidak akan keras.

Sekarang kau adalah produk jadi. Kau adalah apa yang ada dalam pikiranku ketika aku pertama kali bertemu denganmu.”

 

Sama seperti pengrajin yang tahu apa yang dia lakukan dengan tanah liat, Tuhan tahu apa yang Dia lakukan untuk semua umat-Nya. Tuhan adalah pembuat kita dan kita adalah tanah liat-Nya. Dia akan membentuk kita dan membuat kita, sehingga kita dapat menjadi sempurna untuk mencapai potensi kita dengan benar dan memenuhi kehendak-Nya yang sempurna. (sumber: intisari-online)

Tuliskan komentar Anda..