Apakah Kita Telah Memahami Tema-Tema Besar Sejarah?

0

PKSiana – Catatan tentang AKP, kegagalan percobaan kudeta Turki serta insight pengelolaan partai politik kita.

Kudeta dan terorisme sama saja

Suara rakyat lebih kuat dari moncong senjata

Sekarang kita mengerti betapa berbahayanya senjata tanpa bunga..

Kudeta (Turki) ini akan gagal…Inilah akhir dari Ergenekon..Rakyat tidak bisa dikalahkan

Saya ketemu Erdogan pertama tahun 2005 setelah peristiwa tsunami Aceh.

Pak Sudi Silalahi waktu itu Mensekab dan Prof. Yusril Ihza Mahendra waktu itu Mensesneg mengabari pertemuan di Istana.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkenan mengundang saya mewakili DPR RI bertemu Erdogan yang waktu itu masih perdana menteri.

Erdogan datang membawa rombongan yang ingin tingkatkan kerjasama dengan Indonesia.

Ia datang masih dalam suasana bencana Tsunami Aceh yang menelan korban ratusan ribu nyawa.

Erdogan datang bersama rombongan termasuk yang akan menyumbang Tsunami.

Sebelumnya rombongan Turki sudah datang duluan ke Aceh untuk mendirikan pusat logistik.

Mereka mendirikan pabrik roti mini yang setiap pagi dibagikan kepada masyarakat.

Kita jangan lupa bawa Aceh punya tempat khusus di hati Turki sejak zaman Ustmani

Pagi itu, sekitar 15 pejabat datang bersama Erdogan yang baru sekitar 2 tahun lebih berkuasa pasca kemenangan AKP.

Di pihak Indonesia juga ada sekitar belasan pejabat. Umumnya anggota kabinet.

Percakapan pagi itu menakjubkan. Saya pejabat baru. Saya dan Pak SBY baru di lantik akhir 2004 di kamar berbeda.

Secara relatif Pak SBY dan Erdogan naik tahta hampir bersamaan.

Lalu bicara tema yang sama :
1. Penguatan kerjasama kedua negara
2. Kerjasama Islam moderat dan
3. Bantuan kepada Aceh

Saya mengerti mengapa saya diundang: karena kita ingin perdalam tema Islam Moderat itu.

Beberapa kali akhirnya istana mengundang saya dan mulai beberapa diskusi tentang tema terkait.

Suatu kali, saya diundang diskusi untuk mempersiapkan kedatangan menlu AS Condelisa Rice oleh Dino Patti Djalal di Istana.

Saya juga bicara tentang konsep Islam Moderat dan posisi Indonesia yang unik.

Presiden SBY hadir sebentar dan sempat menulis kesan atas pendapat saya. Saya masih simpan catatan kecil beliau.

Memang, ada banyak tema besar bangsa ini yang belum terkelola baik. Sampai sekarang.

Tema dengan Erdogan itu di antara yang sangat penting.

Turki harusnya menjadi kawan Indonesia dalam banyak hal. Karena sejarah dan kemampuan Turki dalam banyak hal.

Ini tema besar, yang kalau kita tuntaskan tentu akan jadi jembatan kita menyelesaikan banyak masalah lain.

Hari ini kita perlu investasi tapi malah kita undang negara yang mengimpor sampah kemari

Padahal banyak alternatif yang ideal seperti Turki, mereka bisa jadi jembatan ke Eropa dan Timur Tengah

Turki dalam banyak hal bisa menjadi sahabat dekat kita seperti Amerika dan Jepang. Atau bisa lebih.

Apalagi ketika Erdogan datang langsung mengajak bicara tema Islam Moderat.

Menurut Erdogan waktu itu kedua negara sangat berkompeten menjadi pusatnya Kajian Islam Moderat.

Setelah Erdogan pergi, saya ingat saya ngobrol dengan Mensekab agar tema ini diseriusi.

Kebetulan saya membaca studi tentang Turki, AKP dan Erdogan sudah lama.

Erdogan memang membawa harapan baru ke Turki bahkan sebelum menjadi Perdana Menteri.

Sifat dan pembawaan politiknya beda dengan kelompok tua di partai yang sebelumnya, Refah, di bawah Prof. Necmettin Erbakan.

Erdogan tidak terlalu dekat dengan gaya retorika Erbakan dalam menyampaikan Islam.

Erbakan dianggap terlalu percaya diri padahal di luar sana banyak musuh yg kuat sekali.

Politik Erbakan akhirnya tidak lama karena tahun 1997 kudeta militer memaksanya meletakkan jabatan.

Erdogan sendiri ikut masuk penjara akibat pendekatan seperti Erbakan yg dicitrakan garis keras.

Militer waktu itu masih sangat sensitif terhadap kelompok Islam yg dituduh merusak tatanan sekuler warisan Attaturk.

Erbakan memang sangat frontal dengan barat dan sekulerisme, ini bikin militer marah.

Sementara itu, Erdogan nampak lebih rasional dengan fakta bahwa Turki juga adalah barat dan warisan At

taturk adalah Turki modern.

Tahun 2001, bersama Abdullah Gul, Erdogan mendirikan partai baru yang bernama AKP.

Semama perjalanannya, AKP lebih menggambarkan aspirasi kaum muda Islam dan publik Turki yang 99% adalah muslim.

Secara cerdas, para politisi AKP memainkan peran dengan bendera baru ini dan meyakinkan publik Turki.

Nampaknya usaha mereka berhasil sehingga sejak November 2002 AKP tidak pernah kalah sampai sekarang.

AKP memang nyata memberikan perubahan. Terutama di sektor ekonomi.

Istanbul dulu kota yang murung, gelap dan nampak tidak aman. Tapi sekarang slogannya “ibukota kebudayaan dunia”.

Istanbul dan kota-kota lain di Turki memang nampak bersinar di bawah AKP (bandingkan dengan saat sekularis berkuasa, mereka korup dan tak memperhatikan kesejahteraan rakyat)

Wajarlah jika Erdogan menjadi semakin kuat dan tidak bisa dikalahkan. Dia menjadi idola di dalam dan luar negara.

Wajar kalau mereka juga menjadi musuh dari kelompok yang frustrasi ingin mengalahkan AKP.

Dalam 10 tahun terakhir ini terlalu banyak rencana dan plot untuk menjatuhkan Erdogan dan mengalahkan AKP.

Tapi Erdogan dan AKP nampak semakin mahir termasuk untuk mengakhiri dominasi militer.

Saya kira, percobaan kudeta yang gagal kemarin adalah sisa akhir dari kekuatan militer.

Di bawah AKP nampaknya Turki telah 100% dikontrol pemerintahan sipil yang dipilih secara DEMOKRATIS

Kemahiran ini yang mengagumkan. Meski Erdogan punya sisi lemah tapi secara total kemahirannya terbukti.

Saya bertemu dengan banyak orang Turki di mana-mana yang memuji bahwa memang dia istimewa.

Dalam satu pertemuan PUIC di Istanbul, saya kebetulan memimpin delegasi Indonensia.

Di tengah acara tiba-tiba Presiden Erdogan datang dan berpidato. Saya ingat itu 21 Januari 2015.

Pidatonya berani sekali, dia mengkritik semua pemimpin dunia yang berprilaku hipokrit atas situasi dunia.

Jangan lupa, Turki paling menanggung derita akibat krisis kawasan karena menjadi tujuan pengungsi dan pencari suaka.

Lalu sehabis pidato dia mengundang ketua delegasi di lantai khusus hotel tempat acara.

Di situ saya sempat ngobrol santai. Mengingatkan kembali tentang pertemuan 10 tahun lalu.

Ingatannya masih kuat dan agendanya masih jelas. Dia bicara detil apa yang ingin dia lakukan dengan pemimpin Indonesia.

Karena dengan dilantiknya kembali Pak JK maka agenda lama bisa dibicarakan kembali. Jokowi-JK baru 2 bulan dilantik.

Tapi saya tidak tahu follow up karena itu tugas eksekutif. Tugas legislatif adalah mendorong kerjasama yang baik.

Setiap ada forum internasional saya selalu meminta bertemu delegasi Turki.

Dan saya selalu mengingatkan agar Parlemen Turki memberi perhatian khusus kepada Indonesia.

Kita juga harus lebih serius sebab Turki adalah kekuatan penting di Asia dan Eropa.

Dan kemenangan Erdogan mengatasi kudeta ini menurut saya lebih penting daripada memenangi pemilu

Kali ini Erdogan perlu dukungan dari negara demokrasi baru seperti Indonesia.

Sebagai negara Muslim kita perlu bersama menjurubicarai Islam yang moderat.

Tapi seperti kekhawatiran saya. Apakah kita mengerti tema-tema besar dalam sejarah?

Orang-orang AKP itu openminded (berpikir terbuka). Dan Erdogan itu berpikir melampaui bangsanya

Mereka generasi baru yang lebih membumi konsep dan tindakannya.

Saya bertemu berkali-kali..percaya dirinya sangat nampak..

Cara bicaranya..penampilannya..pikirannya…tajam dan menarik..

Jadi kewajarannya nampak dan kasat mata..wajar publik Turki percaya mereka…

Mereka tidak sibuk menghukum gaya orang apalagi pikirannya..Dan yang paling hebat jiwa pelayanannya…

Mereka gak sibuk sama soal kecil…pikirannya diisi yg besar dulu..

Rasa percaya dirinya membuat mata dan kata mereka memancarkan kemenangan..

Mereka didukung oleh kelompok yang beragam..Orang-orang yang sadar bahwa keberagaman ini fakta..dikelola bukan dihindari..

Kemampuan mengelola kemajemukan dalam partai adalah bukti langsung kemampuan kelola kemajemukan bangsa..

Bagian dari tradisi moderen adalah menghargai dinamika..

Bagian dari tradisi moderen adalah menghargai dinamika..Karena mereka adalah minia

tur negara..mereka akan berkuasa..

Itulah yang saya lihat di AKP..partai itu serius membangun tradisi kelembagaan..

Partai meski milik private tapi dia perantara menuju kelembagaan publik..

Maka partai harus terbuka..supaya publik tidak punya keraguan..

Ada partai yang terlalu banyak misteri di dalamnya..pasti tak akan besar..

*Ergenekon adalah sebutan untuk organisasi ‘bawah-tanah’ ultra-nasionalis sekuler di Turki, terdiri dari tentara, penegak hukum dan sisa-sisa pengusung sekularisme, sebuah ‘deep-state’ yang melakukan upaya merongrong pemerintahan demokratis

Tuliskan komentar Anda..